Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Barat

Musim Penghujan\, Tikus\, dan Leptospirosis

20 Feb 2024
infokes

Musim hujan identik dengan peningkatan jumlah kasus beberapa penyakit, salah satunya Leptospirosis. Leptospirosis merupakan salah satu penyakit zoonosis yang ditularkan oleh mikroorganisme bakteri patogen dari kelompok genus Leptospira, bakteri Leptospira sp. menyebar ke lingkungan melalui urin hewan yang terinfeksi seperti tikus, kucing, anjing, ataupun hewan ternak seperti sapi, kambing, babi dan kuda, dimana tikus merupakan hewan penular utama. Leptospira sp. akan menetap di dalam ginjal tikus sebagai infeksi kronik dan bertahan sepanjang hidup tikus. Bakteri leptospira kemudian akan memperbanyak diri di tubuh inang dan keluar bersama urin. Tikus menjadi pembawa bakteri leptospira seumur hidupnya (carrier) karena meskipun Leptospira sp hidup di tubuh tikus, tikus tidak menunjukkan adanya gejala sakit. Hal ini berbeda jika Leptospira menginfeksi mamalia lain seperti anjing, sapi, kambing, dan domba.

Bakteri ini akan tumbuh optimum pada suhu 28 – 30° Celcius dengan pH 7 -8. Leptospira bahkan mampu hidup hingga beberapa bulan di tanah lembab atau basah dengan pH netral atau sedikit basa. Sebaliknya, pada lingkungan dengan air payau atau salinitas tinggi, Leptospira  sp.patogen hanya akan bertahan dalam hitungan jam. 

Leptospira masuk ke dalam tubuh ketika melalui luka terbuka, selaput lendir, atau ketika minum air atau makanan yang terkontaminasi. Manusia yang terkena leptospirosis akan mengalami gejala mulai dari gejala ringan seperti influenza hingga kondisi berat seperti gagal ginjal dan hati, gangguan paru hingga kematian. Gejala klinis awal leptospirosis sangat bervariasi dan tidak spesifik. Mayoritas kasus masih bersifat subklinis atau tanpa gejala, namun apabila yang tidak segera diobati dapat menimbulkan kondisi kesehatan yang lebih serius. Setelah masa inkubasi kurang lebih 10 hari, penderita akan mengalami gejala awal leptospirosis seperti demam, sakit kepala, nyeri otot, nyeri betis, dan kelelahan. Komplikasi leptospirosis dapat menyebabkan gangguan pada ginjal, hati, pernapasan, munculnya perdarahan hingga kematian penderita. 

Kasus leptospirosis cenderung akan meningkat selama musim penghujan karena perubahan lingkungan yang mendukung penyebaran dan perkembangbiakan bakteri Leptospira. Curah hujan yang tinggi juga dapat menyebabkan banjir serta meluapnya air kotor dari sungai dan selokan. Hujan dapat pula menyebabkan meningkatnya risiko manusia untuk kontak langsung dengan air yang tercemar bakteri patogen pada genangan-genangan air.

Beberapa upaya yang dapat kita lakukan untuk mengurangi paparan bakteri leptospira saat musim penghujan antara lain:

  1. Penggunaan alat pelindung diri saat berinteraksi dengan air banjir, genangan air atau lingkungan becek. Kita dapat memakai sepatu karet, sarung tangan, dan pakaian yang menutupi kulit untuk membatasi kontak langsung dengan lingkungan kotor.
  2. Menghindari bersentuhan langsung dengan lingkungan kotor dengan menghindari berjalan di genangan air atau wilayah banjir.
  3. Menggunakan air bersih untuk keperluan rumah tangga seperti mandi dan mencuci.
  4. Membiasakan membersihkan anggota tubuh dengan air sabun setelah kontak dengan air banjir, genangan air kotor dan sebelum menyentuh wajah atau makanan.

Namun jika telah menderita demam, disertai sakit kepala, nyeri betis dan/atau gejala lainnya setelah terpapar faktor risiko leptospirosis dapat segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan untuk memperoleh penanganan yang tepat.

Berdasarkan hasil literature review dari berbagai studi yang relevan menunjukkan bahwa pengaruh faktor lingkungan abiotik yang terdiri dari suhu, pH, curah hujan, dan kelembaban udara mendukung dalam penularan leptospirosis di Indonesia. Perlu untuk selalu menjaga kebersihan lingkungan, melakukan desinfektan pada genangan-genangan air maupun tanah yang becek, memakai alat pelindung diri (APD) saat kontak di tempat-tempat berisiko, serta selalu melakukan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) untuk mencegah penularan leptospirosis di lingkungan.

 

Sumber:

1. Aryani Pujiyanti,SKM,MPH, drh.Ayu Pradipta Pratiwi. Ayo Sehat Kemkes

2. Arief Nugroho, Mateus Sakundarno Adi, Nurjazuli. Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat.2023

Foto : Kemkes

Bagikan