Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Barat

Efek Makanan Organik Bagi Kesehatan

Foto: klikdokter

Makanan adalah kebutuhan dasar yang tidak terpisahkan bagi manusia. Tanpa makanan dan minuman yang cukup, aktivitas manusia tidak akan berdaya. Dalam hierarki kebutuhan manusia, kebutuhan fisiologis termasuk makanan merupakan kebutuhan dasar manusia yang harus dipenuhi.

Awalnya, hanya makanan yang dibutuhkan untuk mempertahankan kelangsungan hidup manusia. Namun sekarang dengan cara konsumsi manusia, pilihan jenis, dan selera makanan telah menjadi faktor penting dalam mengkonsumsi makanan. Perubahan gaya hidup yang praktis dan cepat juga membutuhkan makanan siap saji tapi juga cukup gizi dan sehat.

Dalam beberapa tahun terakhir, pasar makanan organik dunia telah berkembang pesat, dan minat masyarakat terhadap makanan dan pertanian organik tampaknya semakin meningkat. Selain buah-buahan dan sayuran organik yang lebih dikenal, penjualan susu organik, unggas, daging, dan makanan olahan juga meningkat dengan pesat. Namun, proporsi makanan organik di seluruh pasar makanan masih relatif kecil.

Kita ketahui ada banyak alasan mengapa sebagian orang memilih untuk membeli makanan organik, termasuk kekhawatiran tentang lingkungan dan penggunaan pestisida, kekhawatiran tentang metode pertanian intensif, atau orang-orang percaya bahwa makanan organik lebih aman atau lebih bergizi daripada makanan yang diproduksi secara tradisional. Selain itu, karena sektor-sektor tertentu dari populasi semakin tertarik pada kesehatan dan kesejahteraan, ada peningkatan permintaan untuk makanan "alami", kurang diproses. Ini juga dapat menyebabkan peningkatan permintaan, karena banyak orang berpikir makanan organik adalah pilihan yang lebih "alami". Meskipun harga makanan organik cenderung jauh lebih tinggi (terutama karena produktivitas tanaman organik yang lebih rendah), mereka tampaknya semakin populer.

Penggunaan kata organik sendiri adalah untuk mendeskripsikan makanan yang ditanam tanpa menggunakan sebagian besar pupuk buatan atau pestisida dan dengan cara yang menekankan rotasi tanaman, memanfaatkan pupuk alami sebaik-baiknya, dan memastikan bahwa kehidupan tanah tetap terjaga. Makanan organik ialah makanan yang bebas dari bahan kimia. Makanan organik ditanam pada tanah yang tidak disemprot dengan pupuk dan pestisida kimia.

Dalam sebuah penelitian disampaikan bahwa, makanan organik yaitu seluruh produk pertanian yang bebas dari pupuk kimia, bahan kimia, atau bahan tambahan sejak penanaman bibit. Kekhawatiran konsumen terhadap kualitas dan keamanan makanan dianggap sebagai salah satu alasan utama meningkatnya permintaan akan makanan yang diproduksi secara organik, yang menurut konsumen lebih sehat dan lebih aman.

Dalam sebuah tinjauan literatur yang membandingkan kualitas gizi makanan organik dan non-organik telah dilakukan, hal Ini menggabungkan temuan dari dua makalah yang dalam sebuah studi membandingkan makanan yang diproduksi oleh dua sistem pertanian yang berbeda, meskipun 'kekurangan serius' dalam metodologi dilaporkan untuk banyak studi sebelumnya. Secara keseluruhan, penelitian yang membandingkan sereal organik dan yang diproduksi secara konvensional, kentang, dan sayuran tidak menemukan perbedaan yang signifikan dalam kadar mineral, elemen pelacak atau vitamin B; tidak ada perbedaan kadar vitamin A atau beta-karoten yang ditemukan pada sayuran. Namun, ada bukti yang cukup kuat dan konsisten untuk kadar vitamin C yang lebih rendah pada kentang yang diproduksi secara konvensional.

Dalam sebuah ulasan lain juga menyimpulkan bahwa ada kecenderungan kandungan vitamin C yang lebih tinggi pada kentang yang ditanam secara organik dan sayuran berdaun. Lebih lanjut disampaikan juga menemukan kecenderungan kandungan protein yang lebih rendah, tetapi protein berkualitas lebih tinggi (yaitu proporsi asam amino esensial yang lebih tinggi) di beberapa legum dan tanaman sereal yang diproduksi secara organik, seperti gandum, gandum hitam, dan jagung. Namun, harus ditekankan bahwa hanya ada sejumlah kecil studi perbandingan sereal dan kacang-kacangan dan tidak semua studi telah mencapai kesimpulan yang sama.

Ada beberapa alasan di balik klaim makanan organik lebih sehat dibandingkan bahan yang dikembangkan dengan metode konvensional

1) Bahan makanan organik tidak mengandung pestisida sintetis, Sebagian besar makanan organik tidak menggunakan pestisida sintetis tau zat kimia untuk melindungi sayuran dan buah dari jamur, hama, dan serangga. Jenis pestisida ini dikhawatirkan mengandung lebih banyak senyawa kimia berbahaya. Kalaupun menggunakan pestisida, sayuran dan buah organik biasanya hanya ditanam menggunakan pestisida organik dalam jumlah yang sedikit.

2) Bahan makanan organik tidak mengandung bahan tambahan, Makanan organik juga tidak diolah dan diproses dengan zat atau bahan tambahan. Bahan tambahan yang dimaksud adalah bahan pengawet, pemanis buatan, bahan pewarna, dan perasa seperti Monosodium Glutamate (MSG).

3) Bahan makanan organik diklaim lebih ramah lingkungan, Tidak hanya menguntungkan bagi kesehatan, makanan yang diolah secara organik juga diklaim lebih ramah lingkungan karena dapat menjaga kelestarian air dan tanah dari polusi bahan-bahan kimia. Sebagai alternatif, penanaman sayur dan buah organik biasanya memanfaatkan predator alami, seperti bebek dan ayam, untuk membasmi hama. Cara alami ini dikenal lebih aman dan tak kalah efektif untuk menghasilkan makanan organik yang sehat dan ramah lingkungan.

4) Bahan makanan organik dinilai lebih bernutrisi, Beberapa studi menyebutkan bahwa makanan organik, terutama buah dan sayuran, memiliki lebih banyak nutrisi dan kandungan antioksidan di dalamnya dibandingkan dengan buah atau sayuran yang diolah dengan metode konvensional.

 

Sumber

1. Anonim, 2023, Direktorat Pelayanan Kesehatan, Kemenkes RI, Manfaat Konsumsi Makanan Organik Bagi Kesehatan

2. Oslida Martony Poltekkes, Kemenkes Medan. 2019. Dampak Konsumsi Makanan Organik Dalam Meningkatkan Gizi Masyarakat.

May 25, 2024

Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Barat

Website Resmi Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Barat

Jalan D.A. Hadi No. 7 Pontianak
sekretariatdinkeskalbar@gmail.com