Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Barat

Bukan Sekedar Metafora Patah Hati, Inilah Fakta di Balik Sindrom Broken Heart

30 Jan 2024
infokes

Sindrom Broken Heart (BHS), atau yang secara medis dikenal sebagai Kardiomiopati Takotsubo, bukanlah sekadar metafora puitis tentang patah hati. Fenomena ini, yang sering kali muncul dalam narasi romantis sebagai sebuah ungkapan kesedihan mendalam, ternyata memiliki dasar biologis yang nyata dan efek fisik yang serius pada jantung.

Apa Itu Sindrom Broken Heart?
Sindrom Broken Heart pertama kali diidentifikasi di Jepang pada tahun 1990 dan dinamai "Takotsubo" karena bentuk jantung yang mirip dengan perangkap udang tradisional Jepang, takotsubo. Kondisi ini terjadi ketika stres emosional atau fisik ekstrem menyebabkan bagian dari jantung untuk membesar dan tidak berfungsi dengan baik, sementara bagian lainnya berfungsi normal atau bahkan dengan kontraksi yang lebih kuat. Diperkirakan 90% kasus BHS terjadi pada perempuan yang sudah memasuki postmenopause. Sekitar 1-2% kasus sangkaan acute coronary syndrome (ACS) merupakan kasus BHS. Sebagian besar (96%) kasus BHS, fungsi dari ventrikel kiri umumnya akan kembai normal dalam beberapa minggu. Mortalitas dari kasus BHS mencapai 2-5% dengan penyebab kematian utama dikarenakan shok kardiogenik dan ventrikular fibrilasi. Pada beberapa kasus BHS dapat terjadi rekurensi.

Penyebab
Ketika seseorang mengalami stres yang intens, tubuh melepaskan hormon adrenalin dan hormon stres lainnya. Pada beberapa orang, terutama wanita yang lebih tua, ini dapat menyebabkan "stunning" dari miokardium (otot jantung), yang menyebabkan bagian dari jantung sementara melemah dan menyebabkan gejala yang mirip dengan serangan jantung.

Gejala-gejala
Gejala Sindrom Broken Heart sangat mirip dengan serangan jantung, termasuk nyeri dada dan kesulitan bernapas. Hal ini sering menyebabkan penderitanya dilarikan ke UGD dengan dugaan serangan jantung. Namun, berbeda dari serangan jantung, penyumbatan arteri tidak sering ditemukan pada pasien dengan Sindrom Broken Heart.

Faktor Risiko
Faktor risiko utama Sindrom Broken Heart adalah stres emosional berat, seperti kematian orang yang dicintai, perceraian, atau bahkan kejutan yang menyenangkan seperti menang lotere. Wanita menopause memiliki risiko lebih tinggi, meskipun ini bisa terjadi pada siapa saja, dari berbagai usia.
Faktor risiko yang berkaitan dengan kondisi BHS berupa usia diatas 55 tahun, merokok, konsumsi alkohol berlebih, riwayat ansietas dan hiperlipidemia. Kondisi ini juga sering terjadi pada perempuan dan dipicu oleh stres emosi atau fisik. Di era pandemi COVID-19, penelitian Jabri et al (2020) kejadian BHS mengalami peningkatan sebanyak 7,8% dibandingkan sebelum era pandemi (proporsi insiden 1,5-1,8%). Selain itu, pasien dengan BHS cenderung mengalami rawat inap yang lebih lama dibandingkan sebelum era pandemi COVID-19. Mekanisme tercetusnya kondisi BHS ini masih belum diketahui secara pasti.
Ada beberapa hipotesis yang menjelaskan tercetusnya BHS yakni peningkatan kadar katekolamin dalam plasma akibat stres fisik atau emosional, spasme arteri koroner dan gangguan mikrovaskular.

Dampak pada Kesehatan
Meskipun banyak pasien pulih sepenuhnya dalam beberapa minggu, kondisi ini bukan tanpa risiko. Komplikasi bisa termasuk gangguan irama jantung, gagal jantung, dan dalam kasus yang sangat jarang, kematian mendadak.

Penyembuhan dan Pencegahan
Pengobatan Sindrom Broken Heart sering melibatkan obat-obatan yang sama dengan yang digunakan untuk mengobati gagal jantung atau serangan jantung, seperti beta-blocker dan ACE inhibitor. Aspek penting lainnya adalah manajemen stres, yang dapat mencakup terapi, meditasi, dan latihan fisik.

Bukan Sekadar Patah Hati
Sindrom Broken Heart adalah peringatan penting tentang betapa kuatnya hubungan antara kesehatan emosional dan fisik kita. Ini membuktikan bahwa trauma emosional tidak hanya mempengaruhi kesehatan mental kita, tetapi juga memiliki efek yang sangat nyata dan kadang-kadang berbahaya pada kesehatan fisik kita, khususnya jantung kita.

Dengan meningkatnya kesadaran dan penelitian, kita semakin memahami bahwa Sindrom Broken Heart bukan hanya soal perasaan, tetapi sebuah kondisi medis yang serius. Penting bagi kita untuk tidak hanya memperhatikan kesehatan fisik kita, tetapi juga kesehatan emosional, karena keduanya saling terkait erat.

Sindrom Broken Heart membuka mata kita tentang betapa rapuhnya tubuh manusia terhadap guncangan emosional. Meningkatnya pemahaman ini tidak hanya penting bagi dunia medis, tetapi juga bagi masyarakat umum, untuk menyadari bahwa mengelola stres dan menjaga kesehatan emosional sama pentingnya dengan menjaga kesehatan fisik. Dengan memahami dan merespon secara adekuat terhadap kondisi ini, kita dapat tidak hanya menyelamatkan nyawa, tetapi juga meningkatkan kualitas hidup banyak orang.

Sumber:
1. Ayo Sehat Kemkes. https://ayosehat.kemkes.go.id/misteri-medis-patah-hati-inilah-fakta-di-balik-sindrom-broken-heart
2. SCRIPTA SCORE Scientific Medical Journal, Vol. 3, No. 2. Broken Heart Syndrome: Berawal dari Stres Menuju Gagal Jantung. Alshafiera Azayyana Mawadhani Sukma, Ridwan Balatif

Bagikan