Problematika Garam, Antara Rasa Sedap Makanan dan Gangguan Tekanan Darah

Hampir semua orang sudah mengenal garam sebagai salah satu komponen bumbu masakan. Garam dengan rasa asinnya dapat meningkatkan rasa enak saat ditambahkan dalam makanan.

Selain sebagai penambah rasa, garam juga dapat dipakai sebagai pengawet makanan. Salah satu bentuknya adalah ikan asin, telur asin atau kacang asin. Proses pengaraman dapat membuat makanan dapat disimpan lebih tahan lama.

Komposisi garam terdiri atas natrium dan klorida, dimana natrium berperan dalam keseimbangan cairan dan elektrolit tubuh. Dengan meningkatnya kadar natrium dalam darah akibatnya dapat menarik air lebih banyak dalam pembuluh darah.

Hal ini menyebabkan peningkatan volume cairan darah sehingga akan mempengaruhi tekanan darah. Dapat kita analogikan seperti air dalam pipa, dimana semakin banyak jumlah air dan diameter pipa tetap mengakibatkan tekanan air akan meningkat.

Kontrol tekanan darah dengan membatasi garam

Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah atau mengontrol peningkatan tekanan darah adalah dengan membatasi asupan garam harian.

Kebutuhan asupan garam per hari bagi dewasa sehat sesuai anjuran dari Kementerian Kesehatan Indonesia adalah 2000 mg natrium atau setara dengan 1 (satu) sendok teh (sdt) garam per orang per hari.

Sedangkan, berdasarkan Angka Kecukupan Gizi Indonesia tahun 2019, asupan natrium harian tergantung dari usia dan jenis kelamin. Angka kecukupan natrium pada dewasa sehat antara 1000 mg – 1500 mg per orang per hari atau setara dengan ½ sampai ¾ sdt garam.

Membatasi asupan garam harian dapat mengurangi rasa enak makanan sehingga akan menurunkan selera makan. Oleh karena itu, dengan menambahkan bumbu-bumbu rempah alami (seperti jahe, kunyit, lengkuas, pala, ketumbar dan lain-lain) sesuai dengan cita rasa yang diinginkan akan membuat makanan lebih enak.

Selain itu, cara lain yang dapat dilakukan dengan mengganti jenis garam menjadi garam rendah natrium. Komposisi garam ini lebih banyak kalium dibandingkan natriumnya. Dari sisi rasa agak sedikit pahit, sehingga penambahan garam sebaiknya dilakukan setelah dimasak atau saat sebelum dimakan.

Selain membatasi asupan garam harian, asupan makanan tinggi garam seperti makanan  diasinkan (seperti ikan asin, telur asin, atau kacang asin) atau makanan diawetkan (seperti makanan kemasan atau siap saji) juga harus dibatasi.

Kebiasaan membaca kandungan natrium pada label nutrisi makanan kemasan, akan membantu mengetahui jumlah asupan natrium harian.

Jadi, untuk mencegah atau mengontrol tekanan darah, maka sebaiknya asupan garam harian harus dibatasi dengan benar, artinya kita tetap perlu asupan garam harian dengan jumlah yang sesuai dengan kebutuhan.   

Sumber: Kemenkes RI

#dinkeskalbar #garam #tekanandarah 

Bagikan Berita:
Share on email
Back To Top