Penyakit Kusta, Yang Sulit Menular

Dinas Kesehatan <br> Provinsi Kalimantan Barat

Dinas Kesehatan
Provinsi Kalimantan Barat

Kemenkes Targetkan Eliminasi Kusta Pada 2020

Ket Gambar : Kadinkes Prov Kalbar bersama Peserta Pertemuan Penerapan ASPAK pada Penyusunan SPA FASYANKES Se-Kalimantan  Barat

Pontianak, Dinkes Prov. Kalbar

Penyakit kusta  merupakan  salah satu diantara penyakit menular yang masih menimbulkan masalah  cukup kompleks baik dari segi medis, sosial  maupun ekonomi. Namun demikian, penyakit Kusta merupakan penyakit menular yang sulit menular. Hal ini dikarenakan masa inkubasinya terbilang lama, yaitu 2-5 tahun untuk bisa terserang kusta. Selain itu dari 100 orang yang terpapar virus kusta, 95 orang kebal, 3 orang sembuh sendiri dan 2 orang yang butuh pengobatan.

Penyakit kusta menyebabkan cacat fisik yang memberi kontribusi yang besar terhadap timbulnya stigma sosial di masyarakat maupun pada para petugas kesehatan sendiri. Hal ini menyebabkan terlambatnya penemuan penderita oleh karena penderita malu memeriksakan diri ke pelayanan kesehatan. Banyak diantara mereka berobat ke dukun dan akhirnya timbul cacat karena keterlambatan pengobatan. Guna mencegah dan mengatasi hal ini maka diperlukan adanya penanganan / penatalasanaan yang terpadu dalam hal pemberantasan, rehablitasi medis, rehablitasi social dan memasyarakatkan  eks penderita kusta.

Di Kalimantan Barat penderita kusta masih menyebar dan tidak merata di beberapa kabupaten maupun kecamatan,  diantara 14 kabupaten/kota ada 7 Kabuaten/Kota  yang masih merupakan kantong-kantong kusta  yaitu  kota Pontianak, Kabupaten Mempawah, kabupaten Kayong Utara . Kabupaten Kubu Raya ,  kabupaten Ketapang dan Kabupaten Kapuas Hulu.

Berdasarkan  Profil Kesehatan Provinsi Kalimantan Barat tahun 2017, Data terkait dengan  penanggulangan kusta pada tahun 2017 adalah sebagai berikut : Jumlah kasus baru  ( PB+MB) 69 kasus (Patau Angka penemuan kasus baru kusta 1,40 per 100.000 penduduk ; prosentase kasus baru kusta umur 0-14 tahun 8,7 % , Persentase Cacat tingkat 2 penderita kusta 2,90 %  atau angka cacat tingkat 2 adalah 0,04 % ;  sedangkan Angka prevalensi kusta adalah 0,29 Per 100.000 penduduk dan persentase penderita kusta PB dn MB selesai berobat masing-masing 26,87 % dan 26,98%

Dengan penemuan jumlah kasus baru di 14 kab/kota pada tahun 2019 didapatkan 89,3 % kasus baru yang ditemukan adalah kusta tipe MB yang mana hal ini menunjukkan bahwa tingkat penularan di Kalimantan  Barat masih tinggi  sehingga diperlukan perhatian dan langkah langkah penanggulangan yang lebih baik dalam penanggulangan penyakit Kusta di Kalimantan Barat.

Upaya yang paling sederhana adalah dengan  melakukan PHBS atau Perilaku Hidup Bersih dan Sehat , dengan selalu rajin menjaga kebersihan diri setiap hari.   Kusta sendiri dapat dicegah dan disembuhkan tanpa cacat bila ditemukan sedini mungkin, terlebih lagi obatnya, yaitu MDT dapat diakses gratis di Puskesmas. Beban penyakit kusta yang saat ini hadapi tidak hanya pada tingginya angka penderita, tetapi besarnya kecacatan yang diakibatkan. Selain itu masalah sosial ekonomi juga mendapat perhatian selain masalah medis.

Mereka yang sudah cacat  akan sangat tergantung secara fisik dan finansial kepada orang lain dan akhirnya berdampak pada kemiskinan. Dukungan seluruh lapisan masyarakat termasuk organisasi kemasyarakatan maupun keagamaan sangat diharapkan  dalam menyikapi masalah sosial ekonomi yang muncul akibat kecacatan pada OYPMK (Orang yang Pernah Mengalami Kusta). Dengan OYPMK tentu agar terbina pemahaman yang baik dan menghapus stigma dan diskriminasi, “Penyakit kusta disebabkan bakteri berbentuk batang yang disebut Mycobacterium leprae. Bakteri itu memberi dampak terutama pada kulit dan saraf. Pengobatan kusta tersedia di semua pos kesehatan di seluruh Indonesia, dan terdapat 10 rumah sakit yang berfungsi sebagai rujukan. Semoga di tahun 2020 Indonesia sudah mampu mengeliminasi penyakit Kusta ini, (sur)

( Bahan berita dari berbagai sumber )

Berita ini di Publikasikan oleh tim Web Dinkes Prov Kalbar tahun 2019

Share on facebook
Share on twitter
Share on google
Share on print
Share on whatsapp