Pencegahan Stunting Penting Dilakukan Sejak Masa Kehamilan, Ini Caranya

Sumber Foto: freepick.com

Dinkes Kalbar – Sebagai negara yang masuk ke dalam 5 besar penderita stunting di Asia Tenggara, Pemerintah Indonesia telah fokus melakukan berbagai upaya guna mencegah dan mengurangi anak dengan kondisi stunting.

Stunting pada anak memang harus menjadi perhatian dan diwaspadai. Kondisi ini dapat menandakan bahwa nutrisi anak tidak terpenuhi dengan baik. Jika dibiarkan tanpa penanganan, stunting bisa menimbulkan dampak jangka panjang kepada anak.

Oleh karena itu, pencegahan stunting harus dilakukan sejak dini, bahkan sejak masa kehamilan.

Dampak Stunting Dalam Jangka Panjang

Stunting yang terjadi pada tahap awal kehidupan atau usia dini dapat menyebabkan dampak merugikan bagi anak, baik dalam jangka pendek atau jangka panjang. Khususnya, jika gangguan pertumbuhan dimulai pada 1000 HPK (Hari Pertama Kehidupan yang dihitung sejak konsepsi) hingga usia dua tahun.

Pada dasarnya stunting pada balita tidak bisa disembuhkan, tapi dapat dilakukan upaya untuk perbaikan gizi guna meningkatkan kualitas hidupnya.

Pasalnya, anak tidak hanya mengalami hambatan pertumbuhan fisik, tapi nutrisi yang tidak mencukupi juga memengaruhi kekuatan daya tahan tubuh hingga perkembangan otak anak. Beberapa gangguan yang mungkin dihadapi anak dengan kondisi stunting di masa depan adalah:

  • Fungsi kognitif dan prestasi belajar yang buruk
  • Hilangnya produktivitas
  • Peningkatan risiko penyakit kronis terkait nutrisi setelah dewasa
  • Rentan terkena infeksi
  • Anak perempuan dengan kondisi stunting memiliki peningkatan risiko kesulitan melahirkan saat hamil setelah dewasa

Untuk mencegah stunting, ibu hamil perlu rutin berkonsultasi mengenai pentingnya menjaga asupan makanan dan memenuhi kebutuhan gizi selama masa kehamilan.

Sumber Foto: freepick.com

Pencegahan Stunting Sejak Masa Kehamilan Hingga Anak Balita

Cara mengatasi stunting yang terbaik adalah dengan melakukan pencegahan. Berkut ini beberapa hal yang dapat dilakukan dari masa kehamilan untuk mencegah terjadinya stunting.

  1. Pemeriksaan kehamilan rutin

Ibu hamil sebaiknya memeriksakan kehamilan secara teratur hingga 1000 hari pertama, yaitu masa sejak anak dalam kandungan hingga seorang anak berusia dua tahun. Masalah yang ditemukan pada kurun waktu tersebut bisa segera ditangani supaya kesehatan bayi tetap terjaga dan stunting dapat segera diatasi.

  1. Memastikan kecukupan nutrisi ibu dan bayi

Penting sekali bagi ibu hamil dan menyusui untuk memenuhi kebutuhan gizi yang diperlukan dirinya dan bayi. Untuk menjaga kesehatan ibu dan bayi, ibu dapat mengonsumsi asupan makanan yang tinggi Kalori, Protein, dan mikronutrien (vitamin dan mineral) selama masa kehamilan.

Terkait asupan nutrisi ibu hamil agar pertumbuhan janin bisa berlangsung dengan baik. Berikut ini rekomendasi asupan nutrisi untuk ibu selama kehamilan:

  • Protein, ibu hamil disarankan untuk mengonsumsi 75-100 gram protein per harinya.
  • Kalsium, selama kehamilan konsumsi kalsium disarankan sebesar 1.000 miligram setiap harinya.
  • Zat besi, asupan zat besi yang ideal selama kehamilan adalah sebanyak 27 miligram per hari.
  • Asam folat, direkomendasikan untuk dikonsumsi sebanyak 0,6 hingga 0,8 miligram per hari.
  • Vitamin C, disarankan untuk dikonsumsi setidaknya 85 miligram per hari.

Berbagai nutrisi tersebut bisa didapatkan secara alami dari berbagai bahan makanan, maupun dengan konsumsi suplemen harian. Pada ibu hamil yang membutuhkan tambahan suplemen maupun vitamin, Konsultasikan ke Dokter untuk pemenuhan suplemen beserta dosisnya.

  1. Deteksi dini penyakit

Deteksi dini penyakit menular dan tidak menular pada ibu hamil juga perlu dilakukan. Kedua jenis penyakit tersebut dapat memengaruhi kesehatan dan kondisi bayi serta dapat meningkatkan risiko terjadinya stunting.

  1. Melahirkan di fasilitas kesehatan yang memadai

Melahirkan pada fasilitas kesehatan yang memadai dan dibantu dengan tenaga ahli, dapat membantu ibu dan bayi mendapatkan penanganan terbaik yang dibutuhkan.

Sumber Foto: indonesia.go.id

       5. Insiasi menyusui dini (IMD) dan pemberian ASI ekslusif

Melakukan inisiasi menyusui dini dan pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan berperan penting dalam tumbuh kembang bayi.

ASI menyediakan nutrisi yang ideal untuk bayi, baik vitamin, protein, maupun lemak. Di dalamnya juga terkandung antibodi yang dapat membantu tubuh si kecil dalam melawan virus dan bakteri. Bayi yang diberi ASI eksklusif disinyalir mengalami lebih sedikit infeksi dibandingkan bayi yang tidak diberi ASI.

  1. Pemberian makanan tambahan

Setelah berusia 6 bulan, Pemberian Makanan Tambahan (PMT) atau Makanan Pendamping ASI (MPASI) dapat diberikan pada bayi supaya kebutuhan nutrisinya terpenuhi sehingga ia dapat tumbuh dengan optimal.

  1. Pemberian imunisasi lengkap

Imunisasi diperlukan untuk mencegah anak dari risiko infeksi penyakit berbahaya. Sering mengalami infeksi penyakit dapat menyebabkan risiko stunting semakin tinggi.

Sebaiknya, berikan bayi imunisasi dasar lengkap sebelum berusia 1 tahun, yang meliputi 1 dosis hepatitis B, 1 dosis BCG (tuberkulosis), 3 dosis DPT (difteri, pertussis, tetanus)-Hepatitis, 4 dosis polio, dan 1 dosis campak.

  1. Pemantauan pertumbuhan balita

Pemantauan pertumbuhan balita penting dilakukan untuk mengetahui kecenderungan tumbuh kembang bayi. Hal ini juga sebagai deteksi dini jika pertumbuhan bayi mengalami masalah atau hambatan.

Kesadaran akan pencegahan stunting memang perlu disosialisasikan kepada para wanita dengan usia produktif, yang berencana mempunyai atau sudah memiliki anak. Pasalnya, kondisi ini terkait dengan masa depan si buah hati.

Tidak hanya itu, kesadaran untuk rutin memeriksakan kandungan ke dokter juga perlu ditingkatkan. Dengan begitu, rencana pemenuhan gizi bagi ibu maupun bayi dapat berjalan dengan baik sesuai anjuran.

Sumber: SehatQ Kemenkes RI

#dinkeskalbar #stunting #cegahstunting

Bagikan Berita:
Share on email
Back To Top