Monev Terpadu Program Besama Yang Efektif dan Efesien

Dinas Kesehatan <br> Provinsi Kalimantan Barat

Dinas Kesehatan
Provinsi Kalimantan Barat

Monev Terpadu Sekadau

Pontianak, Dinkes Prov kalbar
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan barat dr. Andy Jap, M.Kes bersama sejumlah pejabat eselon III Kepala Bidang Pelayan Kesehatan Hyasinta Nita, SKM, MM, Kepala Bidang P2P Marsalena, SKM, M.IP dan Kabid Kesehatan Masyarakat, Jualang , S.Kep. M.Si dan di dampingi sejumlah pejabat eselon  IV, kepala seksi di lingkup dinas kesehatan provinsi kalbar melakukan pertemuan monitoring dan evaluasi dengan jajaran Dinas Kesehatan Kabupaten Sekadau, bulan Juni 2018 lalu di Ruang Rapat Kantor Bupati Kabupaten Sekadau.

Hadir dari dinas kesehatan kabuapten Sekadau ini Kepala Dinas Kesehatan Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kabupaten Sekadau ST Emanuel,M.Si Sekretrais dinas, Kepala Bidang ,Kepala Seksi di jajaran dinas kesehatan kabupaten Sekadau serta seluruh kepala Puskesmas di Kabupaten Sekadau.

Dalam kegiatan tersebut dr.Andy Jap , M.Kes, selaku ketua rombongan Monev terpadu ini menekannkan 3 hal utama dalam peningkatan kinerja dan layanan petugas kesehatan di Kabupaten Sekadau, dalam upaya mewujudkan Universal Health Coverage melalui yaitu Percepatan Eliminasi Tuberculosis, Penurunan Stunting, dan Peningkatan Cakupan serta Mutu Imunisasi.

Terkait TBC, sesuai data WHO Global Tuberculosis Report 2016, Indonesia menempati posisi kedua dengan beban TBC tertinggi di dunia. Tren insiden kasus TBC di Indonesia tidak pernah menurun, masih banyak kasus yang belum terjangkau dan terdeteksi, kalaupun terdeteksi dan telah diobati tetapi belum dilaporkan.

Yang ke dua masalah  stunting, di antaranya dari faktor ibu yang kurang nutrisi di masa remajanya, masa kehamilan, pada masa menyusui, dan infeksi pada ibu. Faktor lainnya berupa kualitas pangan, yakni rendahnya asupan vitamin dan mineral, buruknya keragaman pangan dan sumber protein hewani, dan faktor lain seperti ekonomi, pendidikan, infrastruktur, budaya, dan lingkungan.menjadikan kasus ini belum dapat di tangani secara maksimal, di butuhkan kerja sama dari semua sector tidak lagi menkotak kotakkan suatu program tetapi lebih berfikir bekerja bersama- sama lanjut Andy.

Selanjutnya soal Imunisasi, kejadian luar biasa difteri dan campak yang baru-baru ini terjadi membuat pemerintah harus kembali menganalisa terkait cakupan imunisasi yang telah dilakukan, mutu atau kualitas vaksin yang ada, serta kekuatan surveilans di berbagai daerah.

Ketersediaan sarana dan prasarana pendukung untuk program ini menjadi sebuah tantangan tersendiri tetapi dengan  penajaman program yang dilakukan, yaitu berupa peningkatan cakupan imunisasi, edukasi kepada masyarakat dan advokasi pada pimpinan wilayah, dan membangun sistem surveilans yang kuat untuk deteksi kejadian penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi.

Sehingga ke tiga hal yang menjadi focus penangana kesehatan kita (TBC, Stunting, dan Imunisasi) mendorong kita petugas kesehatan untuk berupaya mengidentifikasi masalah dan menyusun upaya-upaya dalam rangka percepatan Eliminasi Tuberculosis, Penurunan Stunting dan Peningkatan Cakupan serta Mutu Imunisasi. Kata Andy jap menjelaskan.(sur)

Berita ini di publikasikan oleh Tim Web Dinkes Prov Kalbar tahun 2018