Menanam Pohon untuk Mengurangi Polutan Udara

Di tahun belakangan ini selain covid-19 terdapat juga ancaman yang sama bahayanya, yaitu perubahan Iklim (climate change). Isu lingkungan mengenai perubahan Iklim (climate change) telah menjadi kenyataan yang harus kita hadapi bersama. Adanya perkembangan peradaban yang menuntut manusia untuk terus maju dengan segala teknologi yang ada terkadang tidak selaras dengan dinamika alam.
Perubahan iklim yang nyata ini seharusnya menjadikan manusia menjadi lebih aware akan keberlanjutan masa depan bersama. Salah satu kegiatan nyata yang dapat kita lakukan adalah dengan penanaman Pohon. Penyebab perubahan iklim terjadi salah satunya adalah banyaknya kadar karbon dioksida di udara. Bagaimana tanaman dapat berkerja menyaring polutan ? Ini karena tanaman memiliki kemampuan dasar untuk menyerap karbondioksida dari udara saat melepaskan oksigen sebagai bagian dari proses fotosintesis. Wolverton mengatakan, tanaman hijau yang menerima cahaya matahari berfotosintesis menyerap CO2 dari udara tercemar, dan memberikan oksigen murni sebagai hasil sampingan fotosintesis ke udara di sekitarnya. Mikroorganisme yang hidup dalam tanah menggunakan toksin yang diangkat ke udara sebagai sumber makanan. Akar tanaman menyerap sisa produksi mikroorganisme tersebut, lalu kembali membersihkan udara di rumah Anda.
Komitmen nyata dari pemerintah Republik Indonesia yaitu pada tahun 2008, Presiden Republik Indonesia telah mengeluarkan Keputusan Presiden nomor 24 untuk menetapkan tanggal 28 November sebagai Hari Menanam Pohon Indonesia. Amanat Presiden pada saat pencanangan tersebut adalah setiap masyarakat Indonesia menanam minimal 1 pohon. Penanaman pohon ini tentu saja memberikan dampak baik bagi bumi kita, secara tidak langsung kita telah memberikan sumbangsih besar bagi keberlangsungan hidup bersama.
Selain itu adanya strategi penerbitan Perdirjen Perubahan Iklim No 8 tahun 2019 tentang Penetapan Forest Reference Emission Level (FREL) Sub Nasional (Provinsi) dapat menjadi tolak ukur rujukan setiap provinsi di indonesia, penetapan FREL Sub-Nasional ini karena mempertimbangkan hasil Persetujuan Paris Atas Konvensi Kerangka Kerja Perserikatan Bangsa-Bangsa Mengenai Perubahan Iklim. Di mana, target kontribusi yang ditetapkan secara nasional (NDC) Indonesia, adalah mengurangi emisi sebesar 29 persen dengan upaya sendiri, dan menjadi 41 persen jika ada kerja sama internasional dari kondisi tanpa ada aksi pada 2030. “Pemerintah Indonesia sendiri, telah melakukan submisi FREL nasional ke Sekretariat UNFCCC sebagai persyaratan suatu negara dalam implementasi secara penuh mekanisme untuk mengurangi emisi gas rumah kaca dalam konteksi REDD+,”.
Strategi lainya dalam penanaman pohon adalah dengan memilih pohon yang bisa tahan lama hidup contohnya tanaman hias, tanaman ini mampu melakukan proses fotosintesis dalam ruangan sebagaimana tanaman lain dan pohon melakukannya secara biasa di luar ruangan. Mengapa? Karena tanaman penyerap polutan yang dianjurkan adalah tanaman hias tropis atau sub-tropis, dimana mereka menerima cahaya yang disaring melalui cabang dari pohon yang lebih tinggi. Karenanya, komposisi daun mereka dapat berfotosintesis lebih efisien dibawah kondisi cahaya yang relatif rendah sehingga mereka dapat memproses gas secara efisien. Efektifitas mereka meningkat jika daun-daun yang lebih rendah yang menutupi tanah dipindahkan, jadi ada banyak tanah terkontak dengan udara. Contoh tanamanya rumpun bambu. Suzann Bell, seorang horticulturist dari University of Idaho Extension di Ada County mengatakan tanaman ini mampu menyerap polutan jenis Benzene (bensin), carbon monoxide, formaldehyde. Peletakan tanaman ini dalam rumah yang paling tepat adalah di Sebelah timur jendela, dan disiram selama 1-2 kali dalam sehari. Bambu juga diyakini memiliki efektivitas penyerapan CO2 yang besar, sekitar 30% lebih baik dari pohon kebanyakan.
Bagaimana setelah tanaman/pohon tersebut telah ditanam selanjutnya adalah dengan pemeliharaan tanaman adalah kegiatan merawat, menjaga dan mendukung optimalnya pertumbuhan tanaman. Kegiatan pemeliharaan tanaman berupa penyulaman bibit yang mati, pemeliharaan dengan penyiangan tanaman untuk membebaskan tanaman dari gulma atau tumbuhan pengganggu lainnya, pemeliharaan dengan pendangiran dan pemeliharaan dengan pencegahan dari bahaya kebakaran serta hama dan penyakit (Panduan Penanaman Reforestasi, KFCP).
Nah bagaimana agar tanaman tersebut dapat terus tumbuh? tentunya dengan perwatan yang efektif, cara merawat tanaman sangat bergantung pada jenis tanaman tersebut, ada tanaman yang bisa hidup di daerah kering, ada juga sebaliknya. Berikut beberapa tips perawatan tanaman; pertama adalah penyiraman air, jika terlalu sedikit, tanaman akan kekeringan, sebaliknya merawat dengan menyiram terlalu banyak akan menimbulkan pembusukan pada akar, penyiraman bisa pagi atau malam hari, agar saat disiang hari yang terik tanaman tidak kekeurangan suplai air, siram secara merata dan secukupnya, janganan ada genangan pada tanaman, ke-dua adalah eksposur sinar matahari yang cukup, kelembaban dan suhu yang tepat, misalnya jangan menam tanaman yang tidak cocok dikota tempat anda tinggal, ke-tiga merotasi tanah tanaman secara rutin, ke-empat memangkas rumput/ilalang liar agar tanaman terhindar dari hama, ke-lima apabila ada tanaman yang terlanjur kering atau mati segeralah memangkas bagian tersebut agar tidak menyebar ke bagian yang lain. Ke-enam menghindari pupuk kimia carilah alternatif pupuk alami seperti sisa kotoran hewan, pupuk kompos, campuran nutrisi makro dan lain-lain. Ada enam nutrisi penting yang harus kamu perhatikan dalam cara merawat tanaman, yaitu nitrogen, fosfor, potassium, magnesium, sulfur, dan kalsium.
Pohon bisa membantu mengurangi kadar karbon dioksida secara siginifikan dan melepas oksigen ke udara. Sehingga manfaatnya dalam penanaman pohon selain mencegah terjadinya perubahan iklim, pohon juga telah membantu kita dalam bertahan hidup. Mari kita bersama-sama manjaga bumi kita dan konsisten dalam penanaman pohon tersebut, agar anak cucu kita bisa merasakan udara yang baik dan bersih di masa mendatang. (*Mahasiswa S2 Magister Ilmu Lingkungan UNTAN).

Oleh : Utin Rohana

Bagikan Berita:
Share on email
Back To Top