Jaga Kesehatan Mental Anak dan Remaja Selama Pandemi

Masa pandemi akibat virus Covid-19 tidak hanya berdampak bagi orang dewasa, namun juga anak-anak dan remaja. Masa remaja yang seharusnya dijalani dengan sejuta kegiatan, namun karena adanya Covid-19 maka segala aktivitas menjadi terbatas.

Dihentikannya sekolah, dibatalkannya berbagai acara, hilang kesempatan untuk bermain bersama teman sebaya membuat hampir seluruh remaja tak hanya di Indonesia tapi juga dunia kehilangan masa-masa emasnya.

Akibat perubahan hidup yang drastis ini tak dapat dipungkiri timbul rasa takut, cemas, dan khawatir yang mana perasaan ini dapat mempengaruhi kesehatan mental/jiwa seseorang.

Untuk menyikapi keadaan yang demikian, ada sejumlah hal yang dapat dilakukan untuk menjaga kesehatan mental agar tetap waras di masa pandemi yang tidak tahu kapan akan berakhirnya.

  1. Cemas adalah hal yang wajar

Sadari bahwa rasa cemas yang kamu alami bukan hanya terjadi pada dirimu sendiri tapi hampir seluruh remaja di dunia. Kehilangan momen penting dalam hidup memang berat, tidak salah jika kamu mengalami rasa cemas karena itu adalah hal wajar.

Kecemasan adalah fungsi normal dan sehat yang bisa membuat kita waspada terhadap ancaman, dan membantu kita untuk mengambil tindakan untuk melindungi diri.

Rasa cemas dapat membantu mengambil keputusan yang harus dibuat saat ini, seperti tidak menghabiskan waktu bersama orang lain atau dalam kelompok besar, mencuci tangan dan tidak menyentuh wajah.

Sementara itu, untuk mengatasi kecemasan akibat Covid-19, bisa diatasi dengan mencari informasi terkini dari sumber yang akurat dan terpercaya seperti situs dan media sosial milik pemerintah atau media yang terpercaya.

  1. Cari pengalihan

Di dalam hidup tak jarang kita harus berhadapan dengan kondisi yang sulit untuk dilalui. Namun, cara yang bisa dilakukan untuk mengatasinya adalah mengenali masalah terlebih dahulu. Masalah yang timbul bisa hal-hal yang dapat dikendalikan maupun yang tidak dapat dikendalikan seperti saat ini. Oleh sebab itu, kita memerlukan pengalihan untuk mengatasinya seperti mencari kegiatan yang positif dan menemukan keseimbangan dalam kehidupan sehari-hari.

Contohnya seperti mengerjakan tugas, membaca buku atau novel, menonton film, memasak, membuat kue, berolahraga, bernyanyi, menari, melukis atau bahkan membuat kreativitas baru.

  1. Temukan cara baru untuk berkomunikasi

Di zaman yang sudah modern saat ini, berkomunikasi tidak harus dilakukan secara langsung. Kamu bisa memanfaatkan media sosial untuk berinteraksi dengan keluarga jauh atau teman-teman.

Meski peran media sosial baik, tapi jangan sampai kebablasan dalam penggunaannya. Tetap diperlukan pengaturan waktu atau screen time dalam kesehariannya.Karena memiliki akses tanpa batas ke layar kaca atau media sosial itu juga bukan hal yang bagus. Itu hal yang tidak sehat dan tidak cerdas, dan bahkan bisa menambah rasa kecemasan.

  1. Fokus pada diri sendiri

Jika sebelum pandemi kamu begitu disibukkan dengan berbagai kegiatan, kini saatnya kamu fokus pada dirimu sendiri. Kamu bisa memanfaatkan waktu ini untuk menambah kemampuan dengan cara banyak membaca atau mengikuti kursus online.

  1. Rasakan perasaanmu

Untuk mengatasi rasa kekecewaan adalah dengan membiarkan diri merasakan kekecewaan karrna satu-satunya jalan keluar adalah berusaha melaluinya. Tetap melanjutkan hidup dan jika bisa membiarkan diri merasa sedih, akan lebih cepat pula merasa lebih baik.

Tentu perasaan kecewa tidak dapat dipungkiri manakala kita kehilangan kesempatan untuk mengikuti acara-acara dengan teman, kegiatan untuk menyalurkan hobi, atau pertandingan olahraga, tapi ini bisa diatasi.

Beberapa anak akan menyalurkan perasaan mereka dengan membuat karya seni, sementara beberapa lainnya memilih berbicara dengan teman-teman mereka dan menggunakan kesedihan yang dirasakan bersama sebagai cara untuk merasa terhubung di tengah situasi ketika mereka tidak bisa bertemu secara fisik.

  1. Berbuat baik

Tidak dapat dipungkiri akibat virus Covid 19, beberapa remaja mengalami aksi bullying. Cara terbaik untuk mengatasi hal ini adalah dengan jadi pembela untuk setiap jenis bullying. Bagi anak yang menjadi target bullying tidak seharusnya diminta untuk melawan para pelaku bullying secara langsung tetapi mendorong mereka untuk mencari pertolongan dan dukungan dari teman dan orang dewasa.

Bagikan Berita:
Share on email
Back To Top