Hipertensi Pemicu Utama Stroke, Jantung Dan Gagal Ginjal

Hipertensi merupakan salah satu penyakit kronis yang banyak diderita dan merupakan satu dari banyak masalah kesehatan baik di Indonesia maupun di dunia. Lebih dari seperempat populasi dewasa di seluruh dunia menderita hipertensi, yang merupakan faktor risiko utama untuk masalah kesehatan lainnya seperti penyakit jantung koroner, stroke dan penyakit ginjal. Data Riskesdas Tahun 2018 menunjukan bahwa prevalensi hipertensi mengalami penurunan dari 9,4% (2013) menjadi 8,4% (2018) berdasarkan diagnosis dokter. Sedangkan berdasarkan hasil pengukuran pada penduduk umur ≥ 18 tahun terjadi peningkatan prevalensi, yaitu dari 25,8% (2013) menjadi 34,1% (2018).

Penyakit hipertensi yang tidak terkontrol akan menambah beban kesehatan bagi negara. Salah satu faktor utama dalam tidak terkontrolnya hipertensi adalah kurangnya kepatuhan terhadap pengobatan. Perilaku kepatuhan merupakan hal yang kompleks, mulai dari berhenti menggunakan obat yang diresepkan, hanya meminum sebagian obat, atau meminum obat tidak sesuai dengan cara pakai dan dosisnya. Selain itu, untuk mencapai target terapi hipertensi yang terkontrol dibutuhkan optimalisasi terapi obat dan pencegahan masalah terkait obat yang tentunya dapat meningkatkan kualitas hidup pasien dan menurunkan beban pengeluaran biaya kesehatan.

Sumber: freepik

Seseorang akan dikatakan hipertensi menurut Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI, 2015) yaitu bila memiliki tekanan darah sistolik ≥ 140 mmHg dan atau tekanan darah diastolik ≥ 90 mmHg, pada pemeriksaan yang berulang.

Hipertensi diklasifikasikan berdasarkan penyebabnya yaitu hipertensi primer (esensial) dan hipertensi sekunder. Hipertensi primer adalah hipertensi yang paling banyak ditemui (90% dari semua kasus) adalah hipertensi primer (hipertensi esensial) yang tidak diketahui penyebabnya. Sedangkan hipertensi sekunder hanya mencakup 5–10% dari semua kasus hipertensi, dan penyebabnya biasanya dapat diobati. Pengobatan hipertensi sekunder harus dimulai sedini mungkin. Hipertensi ini bisa disebabkan oleh kerusakan fungsi organ tubuh seperti ginjal, gangguan hormonal dan atau gangguan sistem saraf pusat.

Hipertensi dapat dicegah dengan mengendalikan perilaku berisiko seperti merokok, diet yang tidak sehat (kurang konsumsi sayur dan buah, konsumsi garam berlebih), obesitas, kurang aktivitas fisik, konsumsi alkohol, dan stres. Keberhasilan mengontrol tekanan darah mencapai target terbukti menurunkan kejadian stroke sebesar 30-40% dan kejadian penyakit jantung koroner sebesar 20%.

Sumber : freepik

Jika seseorang mengalami hipertensi, maka upaya yang harus dilakukan adalah mengontrol tekanan darah. Masyarakat diimbau melakukan cek tekanan darah di fasilitas kesehatan terdekat secara berkala.

Hipertensi adalah penyakit kronik yang tidak bisa disembuhkan. Jadi kalau seseorang tekanan darahnya sudah mencapai target bukan berarti dia sembuh, tapi terkontrol. Kalau sudah terkontrol maka diharapkan penyakit jantung, stroke, dan gagal ginjal, risikonya akan menurun.

Jadi kita dapat cegah hipertensi dengan

  1. Cek Kesehatan secara rutin
  2. Enyahkan asap rokok
  3. Rajin olahraga / aktivitas
  4. Diet sehat dan seimbang
  5. Istirahat cukup
  6. Kelola stress

Penulis : apt Indah Puspasari, S.Si, MPH

Sumber :
Riskesdas tahun 2018, Balitbangkes RI
Pedoman Pelayanan Kefarmasian Hipertensi 2019, Kemenkes RI

Bagikan Berita:
Share on email
Back To Top