Apakah Pasien Yang Sedang Isolasi Mandiri Harus Minum Obat ???

Kementrian Kesehatan RI kembali merevisi Protokol Tatalaksana Covid 19 yang disusun oleh 5 (lima) Organisasi Profesi  yakni Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI), Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI), Perhimpunan Dokter Anastesiologi dan Terapi Intensif Indonesia (PERDATIN) dan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) sebagai panduan dalam pengobatan Covid 19. Panduan tersebut menuntun pasien tidak bergejala Covid 19 dan bergejala ringan tetap menjalani isolasi mandiri dengan mengkonsumsi beberapa obat yang telah direkomendasikan.

Terjadinya peningkatan kasus aktif Covid 19 selain dampak dari kurang patuhnya masyarakat terhadap protokol kesehatan juga diakibatkan munculnya varian baru virus Covid 19 yang sangat cepat menyebar terutama klaster keluarga. Hal ini menyebabkan masyarakat mulai sadar untuk melindungi diri maupun keluarganya, salah satu upaya yang dilakukan adalah melakukan swab secara mandiri baik swab antigen maupun swab PCR. Pemeriksaan swab dilakukan oleh laboratorium-laboratorium yang sudah direkomendasikan pemerintah untuk dapat melayani pemeriksaan Covid 19. Hasil dari pemeriksaan inilah yang dijadikan dasar masyarakat untuk berobat ke sarana pelayanan kesehatan dan menjadi data penunjang dokter untuk menentukan apakah pasien dikategorikan konfirmasi Covid 19 dengan gejala atau tidak.

Masyarakat yang terkonfirmasi tapi tidak bergejala atau yang disebut OTG harus menjalankan isolasi mandiri dan tetap menjaga kesehatannya. Masyarakat yang menjalankan isolasi mandiri diperbolehkan mengkonsumsi obat-obatan yang direkomedasikan sebagai upaya untuk meningkatkan kekebalan tubuh disamping makan makanan minuman bergizi.

Dikutip dari revisi Pedoman Tata Laksana Covid 19 yang telah disusun oleh 5 organisasi profesi, ada sejumlah obat yang bisa sesuai dengan kategori :

Dalam tata laksana baru tersebut dijelaskan bahwa pasien akan tetap dipantau baik melalui telepon maupun kunjungan langsung oleh dokter atau petugas kesehatan di fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama atau puskesmas terdekat.

 

 

Bagikan Berita:
Share on email
Back To Top